Serangan Pertama, Awal Kekalahan
17 januari 2008, merupakan hari-hari terakhir untuk kuliahku di semester 2 ini. Berarti saatnya aku bersiap untuk menunaikan tugas akhir untuk menyelesaikan masa studiku di semester depan. Tapi aku masih belum menemukan judul yang pas dengan hati nuraniku dan kemampuanku. Pagi hari, aku punya ide untuk mencari inspirasi dari universitas laen, tapi aku tak punya kenalan selain alumni-alumni. Dalam benakku terlintas nama Nunung yang saat ini masih berstatus mahasiswa di sebuah universitas swasta di daerah depok. Ah, nanti malam aku akan memberanikan diri untuk meneleponnya.
Dari kantor sekitar jam 20:30 ku telepon dia, yang kudapat hanya nada tunggu, sampai nada itu putus. Ah, masih sibuk dia pikirku. Setengah jam kemudian kutelepon lagi dia, tetapi hasil yang sama yang ku dapat. sekitar jam 21:25 kembali kutelepon dia, pikirku, jika masih tidak dijawab, aku tak akan meneleponnya lagi dalam beberapa hari kedepan. Ternyata dugaanku salah, dia menjawab panggilanku. Dalam telpon itu aku memperkenalkan diri, dia sungguh kaget waktu itu. Aku bukan orang yang suka basa-basi, aku bicara seperlunya saja (meskipun sebenarnya seberapalamapun aku ga bakalan kena tagihan telepon, karena aku memakai telepon langsung dari sang produsen), yaitu ingin minta tolong untuk akses ke perpustakaan di universitasnya. Setelah mengutarakan apa yang aku maksud, sekitar 5 menit, aku langsung mengucapkan terimakasih dan ucapan salam. Aku sungguh bahagia waktu itu.
23:00
Setelah aku sampai di tempat kos, aku dikasih kabar agak buruk oleh hwk. Dia tadi mellihat sang bidadari diantar pulang oleh seorang pria dengan motor ninjanya. Sang bidadaripun sempat menoleh ke arah kamarku 2 kali, dan disitu hwk sedang melihat pemandangan sekitar tempat tinggal. Sang bidadari bersalaman dengan sang pengantar. Sang pengantar minta tangannya dicium oleh sang bidadri, tapi sang bidadari menolaknya. Ada 2 hal yang terlintas dibenakku kenapa dia tidak mau untuk mencium tangannya, pertama karena dia tidak terbiasa dengan pacaran atau yang kedua, karena dia mellihat ada hwk ditempatku dan dia malu karenanya. Celaka pikirku.
Sabtu 19 januari, sepulang dari kantor pusat karena ada urusan sabtu itu, sekitar pukul 20:00 aku dan hwk berencana beli makan di samping kos. Aku bertemu ibu kos, dan bercengkerama sejenak serta kuceritakan kejadian kamis malam itu. Ibu kos memberiku semangat dengan mengatakan “mungkin dia juga temannya Guh..” belum selesai kami ngobrol, ternyata yang kami bicarakan datang juga. Sang bidadari diantar oleh seorang yang sama dengan kamis malam lalu. Tak banyak bicara aku langsung menghindar untuk menahan rasa patah hati ku.
Aku patah hati sebelum aku benar-benar mengenalnya.
Ya Allah, aku hanya manusia biasa yang hanya bisa merencanakan, tapi Kaulah Yang Maha Berkehendak.



